Senin, 23 Februari 2015

KISAH NABI IBRAHIM AS.

Nabi Ibrahim As. mengajarkan kepada kita tuhidul ibadah dengan do’anya : Sesungguhnya sholatku, pengorbananku, hidup dan matiku kepunyaan Allah Rabbul Alamin. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku diperintah untuk itu, serta aku termasuk orang yang pertama berserah diri (Surah Al-An’am 162-163). Untuk melenyapkan perbudakan, kita memerlukan manusia-manusia yang mencontoh Nabi Ibrahim As. dan keluarganya. Dalam Al-Qu’an Nabi Ibrahim As. digambarkan sebagai orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga perintah apapun ia lakukan, walaupun harus bertentangan dengan fikiran dan perasaannya. Ketika Nabi Ismail lahir Allah menyuruhnya Ibu Ismail dan anaknya menuju sebuah lembah gersang. Tatkala Nabi Ibrahim meninggalkan mereka dengan sebuah gharibah air, ibu Ismail bertanya : mau kemana engkau Ibrahim? engkau tinggalkan kami dilembah yang tiada siapapun dan apapun?. Nabi Ibrahim tidak menjawab. Ketika ibu Ismail bertanya” kepada siapa engkau titipkan kami disini? “ Nabi Ibrahim menjawab “Kepada Allah”. Ibu Ismail menjawab dengan penuh keimanan ” kalau begitu aku rela karena Allah”. Ketika Nabi Ibrahim As diperintah untuk menyembelih Nabi Ismail, dimintanya pendapat anaknya, walaupun ia sudah siap melakukannya : Bagaimana pendapatmu?. Nabi Ismail menjawab seperti jawaban ibunya dulu : lakukan apa yang diperintahkan oleh Allah, insyaAllah aku akan bersabar (Surah As-saffat :102). Pasrahkan diri sepenuhnya kepada ketentuan Allah Swt walaupun pikiran dan perasaan memberikan anjuran yang lain. Seorang ilmuwan ataupun profesional yang tauhidul ibadah ialah bila suatu saat digoda untuk memanipulasikan data dan angka, maka ia ingat bahwa Allah menyuruhnya berlaku jujur. Bagi seorang pejabat yang tauhidul ibadah ialah bila ia memperoleh kesempatan untuk memperkaya diri dengan wewenangnya maka ia ingat bahwa jabatan adalah amanah Allah dan amanah rakyat, ia urungkan niatnya walaupun pikiran dan perasaannya menganjurkannya. Bagi seorang pemuda dan pemudi yang tauhidul ibadah yang mulai memilih hidup dengan bimbingan agama, walaupun kawan-kawannya mengejeknya sebagai muslim fanatik atau kampungan dan harus kehilangan banyak kesenangan masa mudanya, maka ia bisikan kembali ucapan ibu Ismail dan putranya : Aku ridha dengan ketentuan Allah .

0 komentar:

Posting Komentar