Nabi
Ibrahim As. mengajarkan kepada kita tuhidul ibadah dengan do’anya :
Sesungguhnya sholatku, pengorbananku, hidup dan matiku kepunyaan Allah Rabbul
Alamin. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku diperintah untuk itu, serta aku
termasuk orang yang pertama berserah diri (Surah Al-An’am 162-163). Untuk
melenyapkan perbudakan, kita memerlukan manusia-manusia yang mencontoh Nabi
Ibrahim As. dan keluarganya. Dalam Al-Qu’an Nabi Ibrahim As. digambarkan
sebagai orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga perintah
apapun ia lakukan, walaupun harus bertentangan dengan fikiran dan perasaannya.
Ketika Nabi Ismail lahir Allah menyuruhnya Ibu Ismail dan anaknya menuju sebuah
lembah gersang. Tatkala Nabi Ibrahim meninggalkan mereka dengan sebuah gharibah
air, ibu Ismail bertanya : mau kemana engkau Ibrahim? engkau tinggalkan kami
dilembah yang tiada siapapun dan apapun?. Nabi Ibrahim tidak menjawab. Ketika
ibu Ismail bertanya” kepada siapa engkau titipkan kami disini? “ Nabi Ibrahim
menjawab “Kepada Allah”. Ibu Ismail menjawab dengan penuh keimanan ” kalau
begitu aku rela karena Allah”. Ketika Nabi Ibrahim As diperintah untuk
menyembelih Nabi Ismail, dimintanya pendapat anaknya, walaupun ia sudah siap
melakukannya : Bagaimana pendapatmu?. Nabi Ismail menjawab seperti jawaban
ibunya dulu : lakukan apa yang diperintahkan oleh Allah, insyaAllah aku akan
bersabar (Surah As-saffat :102). Pasrahkan diri sepenuhnya kepada ketentuan
Allah Swt walaupun pikiran dan perasaan memberikan anjuran yang lain. Seorang
ilmuwan ataupun profesional yang tauhidul ibadah ialah bila suatu saat digoda
untuk memanipulasikan data dan angka, maka ia ingat bahwa Allah menyuruhnya
berlaku jujur. Bagi seorang pejabat yang tauhidul ibadah ialah bila ia
memperoleh kesempatan untuk memperkaya diri dengan wewenangnya maka ia ingat
bahwa jabatan adalah amanah Allah dan amanah rakyat, ia urungkan niatnya
walaupun pikiran dan perasaannya menganjurkannya. Bagi seorang pemuda dan
pemudi yang tauhidul ibadah yang mulai memilih hidup dengan bimbingan agama,
walaupun kawan-kawannya mengejeknya sebagai muslim fanatik atau kampungan dan
harus kehilangan banyak kesenangan masa mudanya, maka ia bisikan kembali ucapan
ibu Ismail dan putranya : Aku ridha dengan ketentuan Allah .
Senin, 23 Februari 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar